Jumat, 14 Oktober 2011

PERKEMBANGAN MUSLIM DI JEPANG


Muslim di Jepang

By Mamoru 666


Image hosted by Photobucket.com



Pemeluk agama Islam di Jepang sangat sedikit jumlahnya. Warga muslim di Jepang sebagian besar warga asing. Namun sejak serangan 11 September minoritas warga muslim di Jepang merasa terancam. Sebab ada seorang anggota Al Qaeda yang sudah sejak lama tinggal di Jepang dan memberikan suntikan dana dari sana. Sejak itu mulai tumbuh rasa tidak percaya terhadap warga muslim, dan pemerintah Jepang juga semakin ketat terhadap warga asing. Berikut ulasan Martin Fritz dari Tokyo mengenai minoritas warga muslim di Jepang.


Sholat Jumat di mesjid utama di Tokyo dekat Shibuya. Mesjid ini merupakan salah satu mesjid terindah di dunia yang dihiasi kaca dan terbuat dari marmer. Sekitar 150 orang, sebagian besar pria berkumpul di mesjid ini pada siang hari. Ada pria Jepang bersetelan jas. Ada remaja Afrika dengan pakaian warna-warni. Warga Pakistan dan India. Warga Arab, Indonesia dan Turki. Mesjid itu merupakan tempat berkumpulnya berbagai bangsa dari seluruh Jepang.


Warga Jepang tidak fanatik. Mereka menikah dengan menggunakan ritual agama Shinto dan Kristen dan meninggalkan agama Budha. Penganut agama Islam merupakan minoritas. Terdapat 20 mesjid, namun
hanya dua diantaranya yang memiliki kubah dan menara mesjid. Kedua mesjid ini terdapat di Kobe dan Tokyo. Sekurangnya 7000 warga Jepang beragama Islam, ditambah dengan 100 ribu warga asing yang beragama Islam. Hanya sekitar 100 warga Jepang masuk Islam setiap tahunnya. Seperti Rie Yukimuri, seorang wanita Jepang berusia 29 tahun yang tengah memikirkan untuk masuk Islam karena menikah dengan seorang pria muslim. Suaminya menginginkan agar mereka punya agama yang sama.


Mesjid Tokyo dibangun oleh warga Turki. Oleh sebab itu pemimpinnya orang Turki. Ia mau memberikan wawancara, namun jika sudah berbicara soal politik, ia sangat hati-hati. Ia khawatir, karena pemerintah Jepang sekarang memperketat peraturannya terhadap warga asing. Mereka khawatir akan terjadinya serangan sejak Tokyo mengirim tentaranya ke Irak. Rasa tidak percaya kepada warga muslim semakin besar setelah polisi menemukan bahwa seorang buron anggota teroris Al Qaeda tinggal selama berbulan-bulan di Jepang dan mentransfer uang kepada sejumlah anggota Al Qaeda lainnya di Asia Selatan. Imam Cemil Ayaz mengatakan, banyak warga Jepang yang tidak mengenal Islam menghubungkan agama Islam dengan terorisme. Namun dugaan ini tidak hanya ada di Jepang. Warga muslim menentang aksi teror, kata Ayaz. Terorisme tidak punya kepercayaan. Pada dasarnya warga Muslim, Kristen, Budha dan agama lainnya menginginkan perdamaian dan hidup bersama dengan umat manusia lainnya.


Pimpinan mesjid juga Ketua Pusat Warga Turki. Penerangan tentang Islam hanya dilakukan atas permintaan pihak Jepang. Pemerintah Jepang mengawasi semuanya, termasuk mesjid yang ada, kata Imam Cemil Ayaz.


Sementara itu menurut Ayaz, warga muslim di Jepang punya masalah lain selain tekanan politik. Yaitu tidak adanya pasar yang menjual bahan makanan halal dan kuburan yang ada terlalu kecil.

0 komentar:

Poskan Komentar